Tampilkan postingan dengan label HMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HMI. Tampilkan semua postingan

Tantangan HMI di Era Milenial

5/18/2018 Add Comment

bolokajiblog-Istilah generasi milenial memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari kata millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Menurut keterangan dari Wikipedia, generasi Milenial atau sering juga disebut “Generasi Y” atau “Milenials” adalah kelompok orang yang lahir setetelah Generasi X, yaitu orang – orang yang lahir pada kisaran tahun 1980 -2000. Jika diperhitungkan berarti Generasi Milenials adalah orang – orang yang saat ini berumur pada 17 – 37 tahun.
            Di era milenial sekarang ini, sangat banyak habit baru yang tumbuh dimasyarakat, termasuk mahasiswa sebagai bagian yang tidak bisa diparsialkan dari sebuah sistem sosial. Kebiasaan kebiasaan ini kebanyakan negatif dan cenderung destruktif, baik dari segi pemikiran maupun tindakan, melembaga dan membudaya tanpa disadari sehingga masyarakat pada akhirnya terjebak dalam sebuah lingkaran setan.
Kemajuan pesat dibidang teknologi punya peran vital dalam pembentukan habit ini. Indonesia adalah "raksasa teknologi digital Asia yang sedang tertidur". Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa adalah pasar yang besar. Pengguna smartphone Indonesia juga bertumbuh dengan pesat. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Mahasiswa sebagai generasi milenial, mau tidak mau dituntut harus dapat beradaptasi dengan kemajuan ini jika ingin menjadi manusia yang tak termakan jaman. Namun realitanya, hal ini justru menjadi pisau bermata dua, apa outputnya tergantung bijak tidaknya seorang mahasiswa menyikapinya.
HMI adalah organisasi perkaderan yang mempunyai tujuan sempurna, yaitu membina kader yang berkualitas insan cita. Kader adalah tulang punggung organisasi, artinya nasib suatu organisasi tergantung  pada kadernya. Kader-kader HMI adalah bagian dari tujuan organisasi itu sendiri, insan yang beriman ilmu amal. Dalam praktik pengaktualisasian usaha-usaha untuk mencapai tujuan mulia tersebut, kader HMI harus bisa memanfaatkan kemajuan teknologi masa kini. Contoh paling simpel adalah pada tingkat komisariat. Dalam pembuatan konsep kegiatan, publikasi, pelaksanaan teknis, sering kali bahkan selalu membutuhkan smartphone dan internet. Karna hakikatnya teknologi diciptakan untuk mempermudah. Tetapi, banyak kader-kader HMI sekarang yang justru terserang dampak negatif era ini.
Candu gadget dan media sosial, serba instan, lebih suka berbicara di social grup chatadalah ciri-ciri yang sering kita jumpai pada mahasiswa dewasa ini, tidak terkecuali kader-kader HMI. Menurunnya budaya literasi, kurangnya perkumpulan perkumpulan disekretariat dan masjid-masjid, kurangnya skill komunikasi dari kader HMI adalah gejala reduksi kualitas yang tidak bisa diremehkan. Ini merupakan salah satu sisi mata pisau yang merugikan dari kemajuan teknologi di era milenial. Habit ini, secara tidak sadar sudah melekat pada diri mahasiswa, sehingga untuk lepas dari bad habit ini butuh proses yang rumit dan memakan banyak waktu.
Hal-hal diatas menjadi tantangan besar bagi Himpunan Mahasiswa Islam dalam perjalanannya mencapai tujuan organisasi. Pemikiran dan pemahaman tentang nilai-nilai dasar perjuangan, azas, fungsi dan peran bisa saja tergerus atau bahkan terlupakan dan tidak lagi menyinggasana dalam diri seorang kader HMI. Darah hijau hitam sudah memudar. Jiwa pemberani, pengabdi yang membawa menuju masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT sudah tergantikan dengan jiwa jiwa pengecut, penakut dan antisosial. Ketika seorang kader sampai difase ini, seringkali memutuskan untuk acuh dan tidak peduli. Pengalihan dari seorang kader gemar membaca menjadi mahasiswa biasa yang candu sosial media tidak jarang permanently. Disinilah HMI diuji, apakah himpunan yang sudah berdiri sejak 1947 dan menjadi pelopor organisasi mahasiswa islam ini bisa survive atau tidak.
Ada banyak solusi dari problematika diatas, hanya saja dalam pengaplikasiannya dapat menemui beberapa hambatan. Peningkatan mutu training, follow up yang teratur, forum-forum diskusi untuk membahas dampak era milenial dan pencegahannya, serta masih banyak lainnya.
Salah satu senior HMI Kakanda Anies Baswedan  pernah berkata, ”Dengan pendidikan yang baik, kehidupan dimasa depan akan semakin sejahtera”.“Perubahan sosial yang bergerak dari rekayasa sosial harus dimulai dengan perubahan cara berfikir..” kata Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Rekayasa Sosial, Reformasi, Revolusi atau Manusia Besar? “Mustahil ada perubahan kearah yang benar, kalau kesalahan berpikir masih menjebak benak kita”, beliau tambahkan.
Fokus kedua tokoh besar yang namanya sudah tidak asing lagi ditelinga anak HMI ini adalah pendidikan. Sebelum era milenial, dengan segala candu-candu destruktif didalamnya mewabahi kader HMI, yang nantinya akan mereduksi kualitas individu dan organisasi, pendidikan di HMI baik formal ataupun informal harus ditingkatkan. Sehingga kader HMI mempunyai pemikiran-pemikiran kritis memandang masalah-masalah era milenial dan sikap yang bijak dalam menyikapinya. Sehingga tujuan dan cita cita himpunan ini dapat kita capai bersama. YAKUSA!

Ditulis oleh Alif Fitra Ariela, Kabid KPP Demisioner HMI Komisariat FKG USU


Revolusi Pergerakan KOHATI dalam Membentuk Karakter Mahasiswi Muslimah Insan Cita

3/05/2018 Add Comment

bolokajiblog- Dalam teater hidup manusia, diskursus mengenai perempuan sudah ada sejak manusia itu dilahirkan. Baik status, tugas, hak dan juga kewajiban. Perkembangan pemikiran seiring dengan paradigma masyarakat pada masanya begitu dalam dengan berbagai masalah perempuan. Pada awalnya tugas dan perananan perempuan terbatas dalam hal “domestik” yaitu kasur, sumur, dan dapur.
Kontribusi besar perempuan sudah terlihat sejak HMI terbentuk. HMI sebagai organisasi mahasiswa islam tertua di Indonesia punya respon terhadap persoalan yang menimpa perempuan. Dimana aktivitas dan peran HMI-Wati include dalam rangkaian kegiatan organisatoris HMI dengan mengikuti dinamikanya mulai dari revolusi fisik, mempertahankan kedaulatan sampai dengan pemberontakan PKI.
Pada masa orde lama, orde baru dan reformasi, kader HMI terus meningkat. Secara kualitas, kader-kader HMI-Wati memiliki potensi yang besar untuk itu tapi budaya patriarki yang masih merambah dalam aktivitas HMI menyulitkan HMI-Wati untuk berkembang. Belum lagi pandangan tentang kiprah aktivis perempuan yang dibatasi oleh perspektif lingkungan sekitarnya pun membuat HMI-Wati makin tertinggal dalam hal kaderisasi. HMI secara organisasi memiliki konsep perkaderan yang sangat mapan dibandingkan dengan organisasi pemuda lainnya seharusnya tidak pandang bulu dalam menjalankan roda organisasi.
Pertanyaannya kenapa didalam kehidupan sosial dan bermasyarakat, perempuan jarang sekali diperhitungkan atau bahkan disepelekan? Kenapa perempuan hanya dirasa hakikatnya hanya mengurus masalah kasur, sumur, dapur (domestik) saja? Karena physically, Allah SWT. menciptakan perempuan kenyataannya lebih lemah dari laki-laki, sehingga yang terjadi kapabilitas dalam ranah publik tidak menonjol. Paradigma ini yang menyebabkan kurangnya kualitas perempuan itu sendiri. Melihat kondisi obejkif tersebut maka dibentuk lah badan khusus KOHATI didalam tubuh organisasi HMI. Mengutip perkataan Kakanda Laila Nagib (Keua Umum Badko Jawa Tengah) dalam buku HMI 1963-1966, yaitu “Menjadi sarjana yang wanita dan wanita yang sarjana” yang memiliki arti sekalipun dia sarjana, dia tetap mempertahankan fitrah sebagai perempuan, dan sekalipun dia seorang perempuan, dalam seluruh kehidupannya dia menerapkan kompetensinya sebagai sarjana. Bagaimana KOHATI di dalam naungan HMI menjadi laboratorium hidup, tempat HMI-Wati mencoba menempa segala hal, menjadi wadah latihan untuk mempersiapkan muslimah berkualitas Insan Cita sebagaimana yang tercantum dalam tujuan KOHATI.
Jika dilihat perkembangan KOHATI dari masa ke masa, tantangan KOHATI pada zaman sekarang sudah bukan masalah bagaimana memperjuangkan bangsa secara fisik, tetapi bagaimana berperang dan mempertahankan Indonesia dari perang pemikiran, dari rusaknya mental akibat tergilas perubahan zaman. Kakanda Ida Ismail (salah satu dari 5 pendiri KOHATI) pernah mengatakan saat menyampaikan materi pada forum LKK Cab.Jakpustara bahwa kita sekarang berada pada nilai-nilai dalam masyarakat, etika, dan kualitas perlahan-lahan berubah seiring perkembangan zaman. Dimana nilai-nilai budi pekerti dan pendidikan moral sudah tidak lebih penting dibandingkan nilai-nilai pengetahuan umum. “Era Layar” sedang meraja lela dan Narkotika sudah sudah menjadi hal yang lumrah. Sudah tak terbayang, apa lagi tantangan yang harus dihadapi generasi-generasi penerus bangsa selanjutnya, belum lagi menghadapi perkembangan MEA, bonus demografi dan lainnya.
Allah SWT. berfirman yang artinya:”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hedaklah mereka mengucapkan perekataan yang benar.”
Ketika anak lahir, kemudian tumbuh dan berkembang, memasuki dunia sekolah, tugas ibu tak lantas tergantikan oleh sekolah. Bahkan sang ibu dituntut untuk dapat mengimbangi apa yang diajarkan disekolah. Di zaman dengan perkembangan teknologi yang serba cepat, dan kebutuhan kehidupan yang semakin meningkat mengakibatkan manusia semakin tergilas dengan hal-hal “duniawi” ini yang bahkan dapat kita lihat sendiri dampaknya pada moral anak bangsa. Sehingga disinilah yang menjadi tantangan perempuan dalam mencetak generasi selanjutnya. Peran startegis demikian yang menuntut wanita untuk membekali dirinya dengan ilmu yang memadai. Maka, wanita harus terus bergerak meningkatkan kualitas dirinya karena untuk mencetak generasi yang berkualitas, dibutuhkan pendidik yang berkualitas pula.
Dari pemikiran-pemikiran tersebut, diharapkan KOHATI kedepannya harus benar-benar memiliki kualitas yang paripurna untuk menjaga, menjadi pengawal panji islam bagi masa depan umat islam, bangsa dan negara. Senantiasa menyadari bahwa HMI-Wati menyadari kodratnya sebagai seorang istri yang kelak akan jadi menjadi madrasatul ‘ulla bagi anak-anaknya, penyejuk bagi suaminya, dan menjadi bagian dari masyarakat dengan maksimal senantiasa bermanfaat untuk segalanya.

Penulis : Riezky Amalia Hesy Nasution, Ketua Umum KOHATI HMI Komisariat FKG USU Periode 2016-2017


Sisi Lain “5 Februari” yang Terlupakan

2/06/2018 Add Comment
bolokajiblog- Tanggal 5 Februari bagi sebagian orang yang pernah dan sedang aktif disalah satu organisasi mahasiswa Islam adalah hari yang bersejarah. Pada saat itu, tepat 71 tahun silam lahir organisasi besar bernama Himpunan Mahasiswa Islam atau biasa disebut HMI yang kiprahnya masih ada hingga saat ini. Oleh karena itu tidak salah jika HMI disebut sebagai salah satu organisasi mahasiswa tertua di Indonesia jika dilihat dari usianya yang sudah tidak muda lagi.  HMI lahir ditengah pergolakan mempertahankan kemerdekaan negara Kesatuan Republik Indonesia dan polarisasi kaum pelajar kearah paham sosialis. Pemprakarsa berdirinya HMI adalah Lafran Pane, Mahasiswa semester I Fakultas Hukum yang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Islam (sekarang menjadi Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta.  
Pada saat HMI berdiri, sebenarnya sudah ada organisasi kemahasiswaan yaitu Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta. Namun PMY didominasi oleh Partai Sosialis yang berpaham Komunis. PMY cenderung berpihak dan tidak independen dalam memperjuangkan aspirasi Mahasiswa. Oleh sebab itu Lafran Pane berpikir untuk mendirikan organisasi Mahasiswa Islam. Proses pendirian organisasi HMI bukanlah mudah. Lafran pane menghadapi beberapa dinamika sehingga organisasi ini tidak langsung berdiri. Pada bulan November 1946 lafran pane sudah mencoba mengumpulkan para Mahasiswa dan menyampaikan niatannya untuk mendirikan organisasi Mahasiswa Islam namun selalu berujung kegagalan. Suatu ketika Lafran Pane mengadakan rapat mendadak tanpa undangan pada saat mata kuliah Tafsir yang diajarkan oleh Prof Husein Yahya. Ketika itu hari Rabu tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H bertepatan 5 Februari 1947  lafran pane masuk kedalam suatu kelas dan memimpin rapat sambil mengatakan “Hari ini adalah pembentukan organisasi Mahasiswa Islam, karena persiapan yang diperlukan sudah beres. Yang mau menerima HMI sajalah yang diajak untuk mendirikan HMI, dan yang menentang biarlah terus menentang, toh tanpa mereka organisasi ini bisa berdiri dan berjalan". Sejak saat itu secara resmi berdirilah organisasi mahasiswa Islam bernama HMI. Mahasiswa yang hadir pada saat itu selain Lafran Pane adalah Karnoto Zarkasyi, Dahlan Husein,  Maisaroh Hilal, Suwali, Yusdi Ghozali,  Mansyur, Siti Zainah, M. Anwar, Hasan Basri, Marwan, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi, dan Baidron Hadi.
Sejak awal HMI terbentuk, HMI sudah bersifat independen dan mempunyai dua tujuan yaitu: 1. Mempertahankan kemerdekaan dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, 2. Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Kedua tujuan ini dari waktu kewaktu,kongres ke konges, berdifusi dalam suatu rumusan menjadi “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”  yang tertuang dalam Pasal 4 Anggaran Dasar HMI.  Mengutip dari “tafsir tujuan HMI” bahwa pada hakikatnya HMI bukanlah organisasi massa dalam pengertian fisik dan kualitatif, sebaliknya HMI secara kualitatif merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan ide, bakat dan potensi yang mendidik, memimpin dan membimbing anggota-anggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif. Dasar Motivasi yang paling dalam bagi HMI adalah ajaran Islam. Karena Islam adalah ajaran fitrah, maka pada dasarnya tujuan dan mission Islam juga merupakan tujuan daripada kehidupan manusia yang fitri, yaitu tunduk kepada fitrah kemanusiaannya. Tujuan kehidupan manusia yang fitri adalah kehidupan yang menjamin adanya kesejahteraan jasmani dan rohani secara seimbang atau dengan kata lain kesejahteraan materil dan kesejahteraan spirituil. Kesejahteraan yang akan terwujud dengan adanya amal saleh (kerja kemanusiaan) yang dilandasi dan dibarengi dengan keimanan yang benar. Dalam amal kemanusiaan inilah manusia akan dapatkan kebahagian dan kehidupan yang sebaik-baiknya. Bentuk kehidupan yang ideal secara sederhana kita rumuskan dengan “kehidupan yang adil dan makmur”.
Berbicara tentang HMI sangat erat kaitannya dengan Lafran Pane. Lafran Pane yang menggagas berdirinya HMI menolak untuk disebut sebagai satu-satunya pendiri HMI. Begitu rendah hatinya sosok beliau hingga tidak mau diakui sebagai satu-satunya pendiri HMI. Lafran Pane lahir dikota Sipirok pada tanggal 23 April 1923 dalam catatan resmi yang kerap beliau gunakan. Namun ada banyak hal yang kita tidak ketahui dari lahirnya Lafran Pane.  Sebenarnya Lafran Pane lahir pada tanggal 5 Februari 1922. Hal ini diungkapkan oleh anak beliau sebelum jenazah beliau dimakamkan yang wafat pada tanggal 25 januari 1991. Beliau sengaja mengubah tanggal lahirnya supaya tidak menimbulkan tafsiran buruk terhadap tanggal berdirinya HMI dan tanggal lahir beliau.  Lafran pane dikenal sebagai sosok yang keras, tegas dan bersahaja. Jenjang pendidikannya tidak menentu, beliau sering berpindah-pindah karena pada saat itu dalam situasi perang. Beliau pernah menempuh pendidikan di Taman Siswa Medan namun dikeluarkan hingga beliau hidup dijalanan. Dijalanan beliau harus berusaha keras menjalani hidupnya dari menjual es lilin, menjual karcis, hingga bermain kartu untuk menyambung hidupnya. Singkat cerita ditahun 1943 beliau hijrah ke Batavia dan melanjutkan kuliah di STI Yogyakarta hingga berdirinya HMI.
Kebersehajaan Lafran Pane terlihat ketika beliau menyerahkan jabatannya sebagai ketua umum HMI yang masih 6 bulan dijabatnya. Beliau tidak mau dianggap terlalu mendominasi di HMI. Dilain hal pernah beliau mengatakan bahwa honor yang didapatkannya sebagai Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI terlalu besar. Ketika ada rapat-rapat keluar kota sebagai DPA, beliau tidak mau menginap di hotel hotel mewah. Bahkan beliau selalu menggunakan sepeda ketika menjalankan tugasnya sebagai tenaga pendidik. Ada sebuah kisah lucu pada saat kongres ke 8 di Solo tahun 1966. Lafran Pane dilarang masuk oleh panitia karena tidak ada identitas dan tanda pengenal. Kejadian serupa juga dialami Lafran Pane pada Konferensi HMI Cabang Yogyakarta ke-27 tahun 1974, Lafran Pane dicurigai sebagai mata-mata militer. Hingga akhirnya ada kader HMI yang mengenalnya dan beliau dipersilahkan masuk. Lafran pane tidak marah apalagi tersinggung sebagaimana umumnya budaya senioritas dalam berorganisasi. Begitulah rendah hatinya sosok Lafran Pane. Orang yang merelakan jabatannya demi kemajuan. Orang yang tidak ingin terlalu menonjol dan tidak haus kekuasaan. Orang yang tidak gila harta dan selalu hidup dalam kesederhanaan. Demikianlah seharusnya kader-kader HMI, jangan hanya menjadikannya sebagai Pahlawan Nasional dalam ucapan namun juga harus mengamalkan sosok teladan dari diri beliau.
Menilik dari usia HMI yang sudah tidak lagi muda, semestinya sudah banyak lahir kader-kader HMI yang memperjuangkan tujuan HMI yang mulia tersebut. Lantas sudah sejauh manakah kita sebagai kader memperjuangkannya, memperjuangkan apa yang dicita-citakan lafran Pane. Saya sendiri masih jauh dari rumusan tujuan yang mengandung “lima kualitas insan cita” tersebut. Saya masih tertatih tatih dalam akademis, minim dalam menciptakan suatu karya, masih mengeluh dalam mengabdi, dan sering turun naik dalam mengamalkan ajaran Islam, dan bahkan sering lalai dalam menjalankan tanggung jawab sebagai makhluk sosial. Dan satu hal yang pasti, kader yang lahir dari rahim HMI banyak jenisnya. Dari guru ngaji hingga guru besar, pedagang kecil hingga pengusaha sukses, penggiat anti korupsi hingga koruptor,  bejat hingga taat, pendosa hingga yang mengerjakan banyak pahala. Jangan-jangan banyaknya kader HMI yang lahir hanya seperti buih dilautan. Berkumpul tapi tidak berhimpun dalam barisan yang kokoh. Kalau begitu pantaskah kita disebut sebagai kader? Menjadi sekelompok orang yang terorganisasir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar? Mungkin banyak dari kita yang tidak paham apa itu kader. Menjalankan fungsinya hanya untuk kepentingan individu dan kelompoknya. Wajar saja jika terjadi kemunduran ditubuh HMI. Akhir kata, Lafran Pane memang sudah wafat dan mendahului kita, namun cita-citanya harus tetap kita perjuangkan. Jangan sampai HMI ini wafat dan menyusul Lafran Pane dengan cita-cita yang belum tercapai namun kita masih tetap hidup dengan merugi.



Medan, 06 Februari 2018.
Penulis MY

Foto diambil dari tintamuncrat.blogspot.co.id

Senior

2/06/2018 Add Comment
bolokajiblog- Kemarin pagi disela-sela aktivitas, saya menyempatkan diri untuk membuka akun FB saya dari laptop. Keterbatasan telepon genggam membuat saya dalam beberapa hari ini harus menggunakan laptop untuk berkoneksi dengan dunia maya. Ketika akun FB tersebut saya buka, ada masuk pemberitahuan dari beberapa teman FB termasuk postingan yang ditandai kesaya oleh pendahulu saya dikampus dan diorganisasi tempat saya berkecimpung. Isi postingan itu sederhana dan membahas tentang “Senior”. Beranjak dari postingan tersebut muncul pertanyaan apa indikator seseorang disebut senior? Senior karena usiakah atau karena kualitas? Didalam himpunan ada istilah “Senior Course”, apa maksud  dari kata senior tersebut? Dari postingan sederhana tersebut muncul beberpa pertanyaan yang menuntut kita untuk berpikir.
Didalam hidup ini memang kita selalu dituntut untuk berpikir. Dengan berpikir maka akan muncul banyak pertanyaan. Dengan adanya pertanyaan maka muncul usaha untuk mencari pengetahuan. Dan dengan pengetahuan tersebut kita tahu letak suatu kebenaran. Mungkin kira-kira begitulah alur berpikir dari sedikit buku pengantar filsafat yang pernah saya baca. Kalau kata Tan Malaka didalam bukunya Madilog, titik kalau ditarik terus akan menjadi garis dan garis ditarik terus akan menjadi bidang, dan bidang yang ditarik terus akan menjadi badan. Artinya untuk menjawab suatu pertanyaan yang muncul dari pikiran itu butuh waktu dan proses. Untuk itu saya akan coba mencari jawaban dari pertanyaan tersebut.
Kata senior menurut KBBI artinya : 1. Orang yang tinggi dalam jabatan, 2. Lebih matang dalam pengalaman dan kemampuan, 3. Berada dalam tingkat sarjana bagi mahasiswa dan kelas terakhir bagi pelajar SMU dan SLTP, 4. Lebih tua dalam usia. Lawan kata dari senior adalah junior. Defenisi dari junior menurut KBBI sebagai berikut : 1. lebih muda, khususnya antara dua orang bersaudara (kakak beradik) atau antara bapak dan anak yang mempunyai nama akhir sama, 2.Berpangkat atau berkedudukan lebih rendah, lebih muda keanggotaannya. Dari definisi tersebut sebenarnya sudah terjawab apa indikator seseorang disebut senior. Seseorang bisa dikatakan senior jika lebih tua secara usia, tinggi secara jabatan dan tingkatan, atau lebih matang dalam pengalaman dan kemampuan. Tinggal sebenarnya kita mau memilih senior dari pendekatan apa. Saya sendiri lebih suka dengan pendekatan yang terakhir, dianggap senior karena lebih matang dalam pengalaman dan kemampuan. Lantas mereka yang tak punya kualitas bagaimana? Saya pikir setiap orang punya kelebihan masing-masing. Jika pun mereka punya kualitas tak mumpuni dalam bidang tertentu ya tetap juga disebut senior jika dilihat dari sisi usia.
Beralih kepertanyaan selanjutnya mengenai Senior Course (SC) dalam himpunan. Apa maksud senior dalam istilah himpunan?. Senior Course jika diterjemahkan kedalam bahasa indonesia artinya kursus senior. Didalam konstitusi himpunan yang berisi AD/ART dan beberapa pedoman, kata senior pertama kali disebutkan pada pasal 49 ART tentang Badan Pengelola Latihan (BPL). BPL adalah lembaga yang mengelola aktivitas pelatihan dilingkunan himpunan. Pengurus BPL adalah anggota biasa yang sudah mengikuti SC. Mereka yang sudah mengikuti SC dan mengelola pelatihan disebut instruktur. Seorang Instruktur dituntut untuk menjadi uswah dari sisi apapun. Untuk tau lebih lanjut mengenai BPL, SC, atau Instruktur saya pikir bisa dibaca dipedoman BPL himpunan. Karena jika dibahas disini terlalu panjang. Jadi penyebutan senior didalam konstitusi himpunan hanya merujuk kepada mereka yang sudah mengikuti Senior Course. Saya sendiri tidak mau menyempitkan istilah itu hanya sebatas jenjang Training. Saya lebih suka pendekatan bahwa setiap orang harus meng-upgrade kualitas dirinya tanpa peduli usianya masih muda dan jabatannya rendah hingga dia layak disebut senior bukan karena usia tapi karena kualitasnya. Karena sejatinya senior secara usia itu pasti dan senior karena kualitas itu pilihan.
Lantas bagaimana kita beretika dalam hubungan junior-senior. Terlepas seseorang itu disebut senior karena usia, jabatan, atau kualitas. Intinya tetap harus saling menghargai. Sesuai sabda Rasul "Bukan termasuk dari kami seseorang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak memuliakan yang besar".

Medan, 23 Januari 2018
Penulis MY

Foto diambil dari thetomatos.com